Introducing : cikopi.com

Domain baru supaya lebih seru nge-blog kopi nyaūüôā

Rancilio Rocky Doserless (1)

Saya tidak akan pernah bosan mengingatkan bahwa grinder adalah jantung dari metode seduh kopi jenis apapun dari mulai espresso hingga tubruk.  Salah satu grinder kopi yang saya rekomendasikan bagi para coffee aficionado untuk keperluan di rumah adalah Rancilio Rocky. Merek Italia ini sudah diproduksi sejak tahun 1991 dan baru saja melakukan face lift di akhir tahun 2009 hanya untuk bagian base-nya. Perusahaan Rancilio mengeluarkan dua jenis grinder untuk keperluan rumah yakni yang menggunakan doser (wadah penampung kopi setelah proses penggilingan) dan doserless (tanpa wadah penampung). Mari kita bongkar kardusnya dan tunggu ulasan selanjutnya dari grinder kopi yang merupakan salah satu ikon dan banyak mendapatkan pujian karena kualitas, konsistensi, daya tahan, motor yang tangguh serta suara yang halus.

Continue reading ‘Rancilio Rocky Doserless (1)’

Adi W. Taroepratjeka

Di suatu kesempatan Adi W. Taroepratjeka pernah menyatakan kepada saya “Kita belum terbiasa menerima kritik dan malah seringkali dianggap punya niatan lain. Padahal kritik yang konstruktif akan membuat sebuah restoran lebih maju ketimbang mereka yang lebih senang dengan pujian”. Dengan bekal pengetahuan dan pengalamannya yang panjang sebagai konsultan di bidang Food & Beverage Adi beserta istrinya Mia bukanlah orang asing dalam bidang kuliner. Perusahaan mereka¬† Secangkir Kopi adalah tempat bagi siapa saja yang ingin mendapatkan konsultasi dan pelatihan dalam merintis usaha dibidang cafe atau restoran. Di apartemennya di kawasan KH. Mas Masykur Jakarta saya berbincang¬† berbagai topik, khususnya pengalaman mereka dalam bidang bisnis yang saat ini mereka tekuni.

Continue reading ‘Adi W. Taroepratjeka’

Roasting Kopi di Resto Sate Senayan

Hey … itu Hot Top Drum Roaster yang biasa digunakan para home barista atau siapapun yang ingin “memasak” sendiri kopinya. Diluar negeri alat ini dijual dengan kisaran harga 7-10 jutaan, tapi saya tidak tahu berapa harganya di Indonesia. Foto ini saya ambil¬† di¬† restoran Sate Senayan yang berlokasi di City Walk, Jakarta. Menurut si Mas yang jadi baristanya, hanya perlu waktu kurang dari sekitar 20 menit menit dengan kapasitas maksimal 250 gr untuk sekali proses roasting.¬† Sayang mereka sedang tidak melakukan roasting cuma sekedar ingin tahu bagaimana hasil akhir warna biji kopi yang dihasilkan, apakah full medium brown, medium dark, atau dark brown.

Restoran atau cafe yang menjadikan minuman kopi sebagai side dish mungkin sangat jarang atau hampir tidak pernah melakukan roasting sendiri, jadi saya harus memuji ide Sate Senayan yang melakukan sendiri roasting kopinya.

Ingin juga kan punya alat ini ?

Nyethe

Sesekali selembar kertas ditempelkan di bubuk kopi yang masih menyisakan sedikit air di atas piring kecil. Kemudian tangan2 terampil itu mulai melukis sebuah pola simetris dari sisa kopi di sebatang rokok dengan hanya menggunakan ujung sendok. Kurang dari setengah menit lukisan itu sudah mulai menampakan bentuknya, batik klasik parang barong dan Mas Wigih tersenyum sumringah sambil memberikan hasil karyanya kepada saya. Inilah aktivitas keseharian penduduk di desa Bolerejo, Tulungagung, nyethe, yang entah sejak kapan dimulainya sebagai bentuk interaksi sosial masyarakat setempat yang dihubungkan dalam kesamaan orientasi sebuah masyarakat egaliter

Continue reading ‘Nyethe’

The ear, the eye, and the smell …

Tahukah anda bahwa ada 800 aroma kopi saat biji ini di roasting dalam suhu tinggi ? Hanya 100 yang baru dikenali wanginya, selebihnya masih menjadi misteri yang belum terpecahkan. Setidaknya itu kesimpulan  ilmuwan Swiss Bernhard Rothflos dari lembaga Intercafé AG. Rothflos meneliti proses pyrolysis sebuah proses kimiawi yang terjadi pada kopi akibat pemanasan secara spontan  di dalam mesin roasting yang menghasilkan berbagai wewangian semerbak. Saya tentu bukan seorang Rothflos, tapi bisa merasakan antusias peneliti kopi ternama ini  saat melihat sendiri proses roasting kopi di Java Dancer Coffee (JDC). The ear, the eye, and the smell, tiga kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang tukang masak kopi untuk menghasilkan produk kopi berkualitas dan David Tanuwidjaja, roaster di JDC  berbagi pengalamannya dengan saya sebagai rangkaian tulisan terakhir mengenai JDC, berikut dua orang karib Hendri Kurniawan dan Andri Gunawan.

Continue reading ‘The ear, the eye, and the smell …’

Java Dancer : Handcrafted Indonesian Coffee

Pengujung coffee house di Persia (Iran) pada abad ke 1000 lebih bisa menikmati puisi¬† tentang kisah kepahlawanan dalam buku ShńĀhnńĀmeh dari Hakim Abu al Kasim Firdausi apabila ditemani secangkir kopi panas. Sejatinya kedai kopi sejak era Konstatinopel hingga di Inggris senantiasa selalu memberikan inspirasi, kehangatan dan pembebasan pikiran. Cafe bukanlah warung yang lalu lintas pengunjungnya harus tinggi, tapi sebuah tempat dimana interaksi pengunjung bisa lebih intens dan saya bisa merasakan aura itu saat pertama kali menginjakan kaki di Java Dancer Coffee, Jl. Kahuripan 12, kota Malang. Berikut liputan sebuah perjalanan di sebuah cafe yang sudah menjadi ikon baru di kota ini.

Continue reading ‘Java Dancer : Handcrafted Indonesian Coffee’